Senapan di Dasar Laut: Jejak Kapal Perang Belanda yang Karat di Perairan Indonesia
Dasar Perairan Indonesia menyimpan kisah kelam dari era Perang Dunia II, terutama di Laut Jawa. Di kedalaman yang sunyi, terbaring bangkai kapal perang Belanda, Hr.Ms. De Ruyter dan Hr.Ms. Java, yang karam dalam Pertempuran Laut Jawa 1942. Kapal-kapal ini menjadi “kuburan perang” bagi ribuan pelaut Sekutu yang gugur.
Kapal-kapal Belanda ini tenggelam ketika Armada Gabungan Amerika, Inggris, Belanda, dan Australia (ABDACOM) berusaha menghadang invasi Kekaisaran Jepang. Senapan dan amunisi yang tersimpan di lambung kapal kini diselimuti karat. Mereka adalah saksi bisu kekalahan telak Sekutu dan awal dari penguasaan Jepang atas Nusantara.
Perairan Indonesia Belanda, bangkai kapal ini, terutama yang membawa jasad Laksamana Muda Karel Doorman, adalah monumen yang amat disakralkan. Lokasi tenggelamnya kapal-kapal di ini seharusnya menjadi situs sejarah yang dihormati. Namun, kenyataannya menyedihkan dan menggemparkan dunia arkeologi.
Situs-situs bersejarah ini menghadapi ancaman serius dari penjarahan ilegal. Bangkai kapal besar seperti Hr.Ms. De Ruyter dilaporkan hilang hampir seluruhnya dari dasar laut. Pemulung besi tua ilegal diduga menggunakan kapal keruk untuk memotong-motong dan mengangkat baja kapal perang tersebut.
Perairan Indonesia bangkai kapal ini memicu protes keras dari pemerintah Belanda, yang menganggapnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional dan penghinaan terhadap para pahlawan. Benda-benda seperti senapan, selongsong peluru, dan peninggalan lainnya seringkali tercecer di lokasi setelah penjarahan.
Penjarahan bangkai kapal di menunjukkan tantangan besar dalam melindungi warisan budaya bawah air. Meskipun Indonesia memiliki regulasi pelestarian, wilayah laut yang luas mempersulit pengawasan efektif. Kerangka besi kapal perang kini hanya menyisakan jejak di lumpur.
Masalah utama dari hilangnya kapal-kapal bersejarah ini adalah perbedaan pandangan. Bagi Belanda, bangkai kapal tersebut adalah kuburan perang yang sakral. Bagi sebagian oknum di Indonesia, puing-puing kapal ini hanya dilihat sebagai tumpukan baja tua yang bernilai jual tinggi.
Oleh karena itu, diperlukan kerja sama dan kesadaran kolektif dari berbagai pihak. Melindungi situs bersejarah di dasar laut adalah tanggung jawab global. Kisah senapan di dasar laut ini harus menjadi pengingat bahwa adalah museum bawah air yang tak ternilai harganya.
