Anak Tiri Penyiaran: Program Pendidikan Prioritas Kedua
Di tengah ramainya siaran berita sensasional dan hiburan yang murah meriah, Program Pendidikan di televisi nasional sering dianggap sebagai “anak tiri”. Alokasi waktu siarnya terbatas, sering ditempatkan pada jam tayang yang sepi penonton. Prioritas stasiun televisi cenderung berfokus pada konten yang cepat mendulang rating dan menarik iklan mahal. Nilai edukasi publik pun terpinggirkan.
Padahal, memiliki peran fundamental dalam mencerdaskan bangsa. Namun, kenyataannya, biaya produksi yang tinggi untuk konten edukatif berkualitas sering tidak sebanding dengan pendapatan iklan yang dihasilkan. Ini berbeda jauh dengan sinetron atau reality show yang modalnya relatif kecil, tetapi potensi ratingnya besar. Keputusan bisnis ini secara langsung menempatkan edukasi pada urutan kedua.
Minimnya perhatian terhadap juga terlihat dari kualitas kemasan dan promosi. Konten edukasi sering disajikan secara monoton dan kurang menarik, kalah jauh dengan promosi program hiburan yang agresif. Akibatnya, pemirsa, terutama anak muda, semakin enggan beralih ke tayangan informatif. Ini menciptakan siklus di mana minimnya penonton menjadi alasan untuk tidak berinvestasi pada kualitas program tersebut.
Isu ini bukan sekadar masalah komersial, tetapi juga masalah tanggung jawab sosial media massa. Penyiaran memiliki amanah untuk memberikan informasi yang berimbang dan mencerdaskan. Ketika Program Pendidikan diabaikan, media turut berkontribusi pada penyebaran informasi dangkal dan ketidakmampuan masyarakat untuk menyaring konten. Dampak jangka panjangnya adalah kemunduran intelektual kolektif.
Untuk memperbaiki ironi ini, diperlukan kebijakan yang mewajibkan alokasi waktu prima (prime time) untuk Program Pendidikan. Pemerintah dan badan pengawas siaran harus memberikan insentif dan subsidi bagi stasiun TV yang berkomitmen pada produksi konten edukasi. Langkah ini akan membantu menyeimbangkan antara kepentingan profit dengan kebutuhan vital publik akan pengetahuan yang valid dan bermutu.
Masyarakat juga harus proaktif dalam menuntut Program Pendidikan yang lebih baik. Dukungan publik terhadap tayangan edukatif yang berkualitas dapat menjadi sinyal kuat bagi industri bahwa pencerahan juga memiliki nilai jual. Dengan dukungan bersama, Program Pendidikan dapat kembali mendapatkan porsi yang layak, tidak lagi menjadi prioritas kedua, melainkan tulang punggung penyiaran.
